instagram in mine :)
4/5/17
A Diary of Happy Wife (2)
3/20/17
A Diary of Happy Wife (1)
I’ve been on hiatus since a year ago.
Alhamdulillah. I’m all well.
I live in Blitar now. Since 8th January after we married on 3rd January. Since then, I live with my mertua in Nglegok.
We also had our wedding celebration here on 3rd, 4th, and 5th February. Alhamdulillah both celebrations were succeed.
How’s life? How’s my marriage life? It’s wonderful. Living together with my husband in Nglegok, (not) so far away with my parents, it’s such a challenge and gratefulness for me. Basically I’m not a morning person (and I’m still working on it). Waking up in the morning, preparing breakfast for my husband (the good thing is he never asks me for the ribet one kind of breakfast. He wants toast for his breakfast. Are you sure it makes you wareg, honey?)
My days filled with kindness from all of people here. Ibuk and Abah were great. I wish we always have great chemistry like this.
Masbima currently working as a government officer. So that, he works every day except on Saturday and Sunday. He also opened a café last September together along with his friends, Mbak Ratna and Mas Kusem. The café opens every day except on Thursday. My days be like waiting my husband coming back home till 3-4 pm (Sometimes I accompany him). While waiting him, as a housewife I’m doing my chores, doing laundries, cooking (sometimes. Because we have housemaid here), cleaning the house, cleaning Mili and Nathan cages, etc. When he arrived, he took a break till Maghrib, and then he goes to the café in Blitar. The sad thing is we had low quality time (for now). Because he will be at home at 11-12 pm. I wish we have more time to spend together ya mas. Barokallah ya mas, jangan capek-capek ya. Ditunggu istrimu di rumah.
Di Blitar sini sudah pernah ke Sirah Kencong sama Bukit Bunda. Kesana pas weekend. Bisanya pas itu e. Haha. Ke Sirah Kencong ke Puncak Kejora sama Mbak Shinta, Caca juga. Waktu itu kupaksa main kesini. Hehe.
Another kesibukannya masbima adalah: joining a club community, Lancer Blitar Club. Komunitasnya orang-orang yang punya mobil SL Lancer. They had their kopdar every Saturday night. Sometimes my husband took me there. We had random conversation there.
(#nowplaying Me Like Yuh - Jay Park ft. Hoody)
We went on a trip on 3rd, 4th, and 5th March to Jogja. Naik kereta dari Stasiun Blitar ke Stasiun Tugu. Dianter Abah ke stasiun. Keretanya berangkat jam 6 kurang kalo nggak salah. Kita berangkat naik kereta Malabar kelas ekonomi. Sampek di Stasiun Tugu sekitar jam setengah 12 malem. Keluar pintu stasiun disambut taksi-taksi menawarkan tumpangan ke hotel. Akhirnya kami deal-i ke Airy Room daerah mana ya lupa. Hehe. Pokoknya lumayan jauh dari stasiun. Lima belas menit an. Tarifnya 80ribu. Hemm oke.
Sampek di hotel, langsung tidur. Besoknya kesiangan cuy. Berangkat dari hotel naik taksi ke Malioboro. Niatnya cari sarapan. Kena tarif 30ribu. Wow. Kaget. Berarti kemarin dibohongin sama supir taksinya. Bisa-bisanya dikasih harga 80ribu. Guila. Bisa dibuat jajan gudeg berapa piring.
Niatnya kan cari sarapan ya di Malioboro. Kukira Masbima pengen makan gudeg. Ternyata setelah menyusuri jalan, ujung-ujungnya ke McD di Malioboro Mall. Sok-sok an banget ya kita. Jauh-jauh ke Jogja makannya di McD.
Ohiya sebelumnya udah janjian sama mas-mas Transmojo Rental. Mau nyewa motor. Sambil wasap-an sama masnya, sambil makan, sambil nunggu motornya dateng. Habis makan, duduk-duduk nongski panas di depan Malioboro Mall. Guaya pol.
Akhirnya masnya dateng, cus ke Kawasan Hutan Pinus Dlingo. Cus sekitar jam 9 an. Sudah siang ya ternyata.
Akhirnya sampek di Hutan Pinus. Cari parkir sepeda motor. Jalan ke ticketing. Bayar berapa ya lupa. Lima ribu apa ya? Udah selfie mode on. Dan hujan. Hujan lumayan deres. Tapi cuman bentar Alhamdulillah. Lanjut jalan-jalan ke atas. Ke rumah pohon. Biasa, foto-foto. Heheheheh. Selanjutnya ya jalan-jalan lagi, foto-foto lagi. (Bersambung…) (Ngantuks)
4/19/16
The Struggle is Real
-A talk to myself
11/28/15
Mimpi
Walaupun ada beberapa yang belum saya kenal, kami seru berbagi info dan guyon bareng di Whatsapp. Singkat cerita, dari hasil chatting-an tersebut, kami bertemu lagi tanggal 11 di DW Coffee. Kami membicarakan mengenai konsep acara dan rencana untuk survei. Mas Wahyu terpilih sebagai ketua rombongan. Mbak Esa sebagai Bendahara. Mbak Putri sebagai sekretaris. Mas Wahyudi sebagai koordinator lapangan. Mas Wildan sebagai koordinator perlengkapan.
Kami sepakat untuk berangkat ke Ngadas pada hari Jumat karena banyak hal yang harus disiapkan untuk Sabtu-nya.
Karena tugas saya hanyalah sebagai orang yang mendokumentasikan kegiatan, saya hanya bisa menyaksikan teman-teman relawan pengajar memberikan pengetahuan mengenai profesi mereka. Mereka sangat antusias mengajari anak-anak dengan gembira, sabar, tulus, dan ikhlas. Keren.
Dari seluruh kegiatan tersebut, saya merasakan bahwa pendidikan SD itu sangatlah penting. Pendidikan SD merupakan tingkatan pendidikan paling awal yang bertugas untuk memberikan pengertian serta pengetahuan kepada anak-anak akan pentingnya cita-cita, bagaimana mereka bercita-cita, serta apa saja yang harus dilakukan sampai dengan cita-cita tersebut tercapai.
3/7/15
Senang
Oh, hai malam minggu.
Habis nonton Running Man nih, lupa episode berapa, tapi yang guestnya Ze:a sama Shinhwa itu.
Menikmati dan bersantai di atas kasur. Liat-liat Line mungkin ada yang menarik. Eh, beneran ternyata, ada chat masuk dari beberapa pengurus dan anggota di grup LPM DIANNS. Kabar baru nih, Dianns sekarang punya soundcloud loh. Namanya Radio Pojok Dianns. Masih belum tau sih, mau diisi apa aja, ngomongin apa aja. Tapi rekaman soundcloud pertama mereka keren. Di rekamannya yang kira-kira berdurasi 4 menit lebih itu ada Ganis, Deby, sama Ican yang ngisi. Lupa karakternya siapa aja. Hehe. Ada bacain puisi juga di menit-menit terakhir. Puisinya Wiji Thukul, judulnya Bunga dan Tembok. Wah, emang bener-bener keliatan progressnya buat kepengurusan tahun ini. Disitu saya merasa senang. Tapi sedihnya juga ada, soalnya saya tidak berada diantara mereka lagi. Oke ini mulai melankolis. Standing applause buat mereka. Good job! Lanjutkan, rek.
3/3/15
Selasa Ini
Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah, pagi tadi saya bisa nitip KTM ke temennya temen saya, buat ditumpuk di meja pendaftaran IC3. Kabar baiknya sebenarnya masih Senin soalnya tadi cuman numpuk aja, dan dijaminkan kalo Senin KTM sudah bisa diambil dan sudah dapet jadwal tes. Bismillah.
Habis dari INBIS tadi makan bareng sama temen saya di Kopma. Niat makan yang berakhir cuman minum jus. Iya jus. Padahal pagi sebelum berangkat tadi juga minum jus bikinannya mama, jus jambu dkk. Alesannya temen saya ga jadi sarapan karena dia ingin diet. Waktu minum, saya disuguhkan temen saya salah satu segmen semacam acara variety show (musik)-Unpretty Rapstars-model shownya kayak Show Me The Money, gitu. Katanya dia terlalu nganggur di rumah dan akhirnya nonton acara begituan.
Habis itu ke kampus, mau nemuin dosen, Pak Dwi. Ada parafnya tapi ga ada orangnya di absensi dosen. Saya smslah Pak Dwi, beliau ada dimana. Belum 5 menit saya sms, saya mendapat panggilan masuk dari beliau, beliau mengatakan bahwa sekarang beliau ada di rumah, dan saya diminta kerumah beliau. Saya gelagapan. Saya mengecek alamat rumah Pak Dwi di banner dosen. Berangkat dari kampus ke rumah beliau. Tapi sebelum itu saya berniat untuk meminta ttd Pak Irwan Noor, dosen ketua komisi pembimbing saya yang akhirnya ga jadi minta karena saya ga tau orangnya yang mana.
Saya berangkat ke rumah Pak Dwi sekitar jam 10. Saya sebenarnya tau dimana daerah jalan rumah beliau. Tapi karena cetakan di banner dosen menyebutkan nomer rumah beliau salah, sedikit nyasarlah saya. Alhasil jam 11 an baru sampai di rumah beliau. Saya dikasih saran blablabla. Ngobrol mulai dari kucing piaraannya beliau sampe putrinya beliau yang ternyata alumni Smanti.
Saran beliau buat saya:
Menjelaskan bagaimana penerapan ISO di SMK dan SMA (SMKN 4 dan SMAN 3 Malang). Saya direkomendasikan begitu karena beliau pikir akan lebih mudah kalo wawancara dengan pihak Smanti, yang juga mantan sekolah menengah atas saya dulu.
Sehabis dari rumah beliau, saya balik ke kampus buat minta ttd Pak Irwan Noor. Untungnya saya ketemu temen saya yang tau beliau yang mana. Waktu perjalanan mau makan di daerah Kerto-Kerto-an, papasan sama beliau. Tapi karena sepertinya beliau dan rombongan (dosen lainnya) hendak ada perlu mengerjakan sesuatu, saya menarik diri buat tidak mengajukan lembaran persetujuan dosen pembimbing.
Selesai makan, saya merasakan perut saya tidak enak. Entah kenapa, ga bisa ngentut apa kewaregen. Jadi inget dulu pernah periksa ke dokter katanya saya punya usus buntu, tapi ga kronis. Kok bisa ya. Entahlah. Saya bete dengan kondisi saya saat itu, selain sakit perut, ngantuk bukan main. Niat menunggu ttd dosen terurungkan. Tapi karena disemangatin temen-temen saya, saya dapet ttd beliau jam 3 lebih sebelum beliau ada kelas. Alhamdulillah, batin saya.
Beliau mengatakan sesuatu kepada saya, intinya kalo bimbingan sama beliau harus rajin. (Apakah saya sangat terlihat tidak rajin?). Mungkin.
Saya pulang dengan menahan sakit perut sambil nyanyi-nyanyi dalem mobil. Ga tau wes nyanyi model apa. Sampai di rumah, saya ndelosor. Di kasur. Tidur. Saya mikir kalo saya udah kayak kebo aja (temen saya ada yang ngaku kalo dia emaknya kebo soalnya dia nonton drama Korea mulu). Entah apa yang membuat dia berpikir dia emaknya kebo. Anaknya kok nerima aja ya dia jadi emaknya. Abaikan.
Sebenarnya alasan saya lebih sering menulis catatan di blog karena saya orangnya pelupa. Sangat. Mungkin sedikit curhatan ini bisa mengingatkan saya lagi di kehidupan masa depan. Haha. Bye.
3/2/15
Belum Saatnya Lelah
Halo. Selamat malem.
Saya lagi makan bakso nih habis pulang les Bahasa Inggris sama ngelap-ngelap mobil yang tadi habis dipake soalnya hujan.
Hari ini kalo diitung-itung sedikit kurang nggak beruntung ya. Bangun kesiangan (baru bangun pagi jam 9). Terus dapet line dari temen kalo dia lagi antri daftar IC3. Langsung beranjak dari tempat tidur, mandi, berangkat. Sampe INBIS udah jam setengah 10-10 an. Dan sampek sana udah dikabarin kalo pendaftaran buat hari ini udah ditutup. Full. Yasudahlah. Besok rencana balik lagi pagi-pagi jam 7. Bismillah dapet tanggal-tanggal kalo bisa jangan sampe September. Amin.
Alhasil waktu gabut tadi saya habiskan buat berbincang-bincang panjang lebar. Ngalor ngidul. Ngetan ngulon sama temen SMA (berasa kayak reunian SMA soalnya banyak ketemu temen SMA di INBIS, alesannya ya sama, daftar IC3). Nunggu temen yang udh dari jam setengah 8 ngantri dan berharap namanya segera dipanggil.
Habis dari INBIS, sekitaran jam 12 an ke kampus. Niat mau mencari ttd dosen pembimbing skripsi. Ternyata kedua dosen pembimbing skripsi saya tidak sedang berada di kampus. Bertambah bete-lah saya. Haha. Ketawa ngenes. Itu posisinya saya ditemeni sama temen saya yang tadi daftar IC3 di INBIS.
Setelah kecewa, saya meng-sms mama saya, barangkali adik saya sudah pulang sekolah. Jam masih menunjukkan pukul 1 dan adik saya ternyata pulangnya jam 2. Pergi makanlah saya dan temen saya, di Baegopa. Lagi pengen soalnya. Haha.
Habis dari Baegopa balik ke arah kampus nganterin temen saya pulang. Tapi sholat dhuhur dulu di masjid yang kepunyaan MAN 3 itu, saya lupa namanya. Di perjalanan temen saya tanya, "Bin, aku pernah buat kamu bete tah?" Mungkin dia menanyakan hal itu karena semenjak tadi saya mengutuk diri saya sendiri dengan banyak kata 'bete'. Saya jawablah pertanyaan temen saya itu, tapi saya sebelumnya memastikan kalo dia ga boleh marah kalo saya bilang jawabannya. Ya kurang lebih saya mengatakan kalo saya paling bete kalo ada orang yang udah tau kalo dirinya sakit, tapi ga mau ngambil tindakan pencegahan atau tindakan P3K buat dirinya sendiri yang kemungkinan besar bisa buat dirinya itu lebih baik kondisinya.
Habis nganter pulang temen saya, saya jemput adik saya di sekolahnya. Sepulang itu tidur pules soalnya malemnya saya ada les Bahasa Inggris.
Kurang lebih kegiatan saya seperti itu hari ini. Haha. Entah karena apa saya curhat, mungkin karena ga ada kerjaan lain selain nulis. Jadilah saya nulis di blog aja.
Aku takkan sadari bahwa kau tak lagi disini.
#np: Sheila On 7 - Ketidakwarasan Padaku
Ada tumblr (kurniawangunadi) bagussss
Screencap
Quote bagussss
2/23/15
Curcol di Malem Selasa
Bukanlah itu yang aku nanti
Tetapi ketulusan hati yang abadi
Ku tau mawar tak seindah dirimu
Awan tak seteduh tatapanmu tetapi
Ku tau yang kutunggu hanyalah senyummu
(Letto - Senyumanmu)
Anggep aja itu kata 'cantik' nya itu diganti ganteng. Haha.
Alhamdulillah Sabtu kemarin berakhirlah kepengurusan LPM DIANNS periode 2014-2015. Lega? Pastinya. Haha. Ada seneng sedihnya, seh. Demisioner itu artinya kudu pisah sama temen-temen DIANNS semua (meskipun boleh lah kadang melipir mampir ke sekret. Haha). Kerja sama temen-temen semua ada seneng ada susahnya juga. Hehe.
Target setelah ini (niatnya) mau fokus ngerjain skripsi. Bismillah. Semester ini kudu lulus. Amin.
Hari Minggu kemarin, sempat kepikiran kalo misalnya aku punya pacar mungkin bisa nambah-nambahin semangat buat ngerjain skripsi. Haha. Entah itu hanya asumsiku belaka atau cuma ya sekedar mikir aja.
Akhir-akhir ini atau apa memang selama ini (?) sering ngerasa iri sama mas-mas yang perhatian sama adik tingkatnya. Catatan: ini mas-mas yang belum punya pacar lho ya. Kalo minta dianterin kesitu, dianterin. Minta ditemenin nonton film, ditemenin. Minta ditemenin nonton konser, diturutin. Minjem jaket pas kedinginan, dikasihin. Minta dianterin pulang, dianterin. Mau dianterin ke toilet, dianterin (yang ini sih lebay). Seneng aja liatnya, kayaknya mas-mas itu perhatian banget gitu. Entah karena suka, sayang, atau ya cuman pengen diliat perhatian aja. Atau mungkin ga pengen pacaran, tapi cuman pengen jadi friend zone yang kemana-kemana bisa diandalin. Ehem. Yang disini cuman bisa ber-hem hem ria lho.
Current state: memulai mengerjakan skripsi (mungkin kalau di tengah pengerjaan skripsi, dipertemukan dan dianugerahi Allah jodoh, alhamdulillah banget). Hehe.
8/24/14
Lifeless
8/6/14
SUB - KL - MACAU
Cuma mau sharing foto hasil jepretan Sony Alpha 230 200 mm trip selama 4 hari 3 malam sama Papa, Mama, Mbak Shinta, Caca, dan Amri. Mostly taken at Hongkong, Shenzhen, and Macau.
Nathan Road, Hongkong
Some street snaps of people's footwear.
Sky Terrace 428, Hongkong. The night view on the highest place at Hongkong. The lights were super beautiful! More info: Sky Terrace 428
Window of The World, Shenzhen.
Macau.
The rests are still on my cell phone and I have posted some of them on my instagram account :)
7/18/14
SLEEEEEEPY
I’m waiting for the next Friday because the next day (Saturday) is gonna be holiday until early August (for magang). I’m very pleased and happy~~ because on 28th (or 29th)-I forgot the exact day-Me and my family will go to Hongkong. Alhamdulillah, Puji Syukur kepada Allah. Doaku dan doa sekeluarga dikabulkan pergi ke luar negeri buat liburan. Haha. Paling kalimatku ini agak lebay-kalo yang baca orang yang sering pergi liburan ke luar negeri-. Lol.
These days Malang were very cold. Idk why. Last Wednesday night the temperature was down up to 17 degrees Celcius. Brbrbrbrbr. Dingin pol, cuy.
Harus bertahan pake rok sampe akhir September. Haha. Sing sabar ae wes. Demi nilai magang.
Please take a minute to pray for Palestine. Pray for Gaza. Semoga perlindungan Allah senantiasa menyertai mereka. Amin.
Semangat magang and Happy fasting!
6/28/14
Heavy Night (?)
Vancouver. British Columbia. Canada. Gara-gara aku mem-follow salah seorang akun instagram, ybs stay di Vancouver. Si ybs (@alexstrohl) ngambil foto-foto banyak banget, khususnya pemandangan, tempat-tempat ajaib, wonderful, dan amazing. Nggak bosen-bosen liat feedsnya akun itu. Lakes, mountains, hills, roads, cliffs, forests, waterfalls........ Liat pemandangannya, Subhanallah sekali. Pengen tinggal disana jadinya (amin). Cari beasiswa nggak ada yang tujuannya kesana (belum ada). Sejauh ini.
14 Juli udah mulai magang. Semoga semuanya lancar sejahtera sehat sentosa nggak ada halangan apapun sampe nyusun laporan magang. Amin.
Kalo selama ini aku punya banyak salah (pastinya). Maafkeun, nggih, temen-temen. Udah mau puasa ini. Hehe. Semangat puasanya yaaaa.
Okay, masih banyak pikiran-pikiran lain yang mencuat di otak. Sebelum undur diri, please kindly visit @nadhirahijab. You’ll find some interesting stuffs there. See you (kiss bye).
Walt Disney, “If you can dream it, you can do it.”
Marilyn Monroe, “I believe that everything happens for a reason. People change so that you can learn to let go, things go wrong so that you appreciate them when they’re right, you believe lies so you eventually learn to trust no one but yourself, and sometimes good things fall apart so better things can fall together.”
4/1/14
Saksi
1.
2. Di dompet ada amplop isi 68 ribu nggak tau punya siapa, antara kas paski atau yang lain, atau jangan-jangan punyaku. Duh, tolong inget plis ini amplop uang punya siapaaaa.
3. Di dompet juga ada uang 46 ribu, sisa dulu buka bersama SD.
4.
Ohiyaaaa, ada lagi, buku tahunan sekolah Smanti, ada 2 yang masih ada di aku hayooo. Ndang dijupuk plis selak aku laliiiii. Huhu.
Ya Allah, ampuni dosa hamba-Mu. Maaf ya, rek, semuanya. Semoga blog ini jadi saksi dan reminder kalo masih ada tanggungan ke temen-temen. Semoga tetep inget. Inget masih ada tanggungan dan inget ngembaliin. Amin.
3/30/14
Tonight
How's your day? Hariku ya gini-gini aja di rumah, nonton tv, laptopan, hp-an, tidur.
Tadi malem habis nonton opera teater (?) dari Kutub. Komunitas Teater UB. Judulnya Sang Rajapatni, tentang Kerajaan Majapahit gitu. Karena trilogi, Sang Rajapatni ini menceritakan bagian pertama sejarah Kerajaan Majapahit. Keren, coy! Artisnya all out dan pentasnya nggak monoton. Sayangnya nggak nemu penonton yang agak ganteng. Sedikit kecewa. Lho.
Malemnya jam 12-an eh denger adikku lagi telponan, entah sama siapa batinku. Pas mau tidur, kepo instagram dulu, eh ada postingannya sama cowok, coy. Mbak macem apa aku ini baru tau dia udah punya cowok, dan kemarin 30 harinya dia pacaran. Ohmen, aku kalah cepet *salah fokus. Kalo kayak gini jadi bingung sendiri mau ndoain apa, semoga langgeng (?). Yasudahlah di-iya-in aja.
Btw, nulis ini sambil sentrap-sentrup nggak jelas. Ingus kemana-mana. Oh, please, flu go away.
Senin besok libur hari raya Nyepi, tadi Mama nawarin besok mau jalan-jalan ke Bromo. Entahlah jadi atau nggak. Yang mau liburan, monggo berlibur. Lumayan refreshing dikit. Eh, tapi kata temenku kalo Nyepi itu nggak boleh kemana-mana ya? Kudu di rumah terus? Idk.
Ohya, fyi, tanggal 2-5 April 2014 ada Malang Film Festival di UMM Dome. Acaranya banyak, coba buka linknya aja ya. Haha.
2/22/14
JOGJAAAA
#prayforkelud. Turut berduka cita atas musibah meletusnya Gunung Kelud kemarin malem. Semoga kita semua senantiasa dalam perlindungan Allah. Amin.
Pagi tadi aku dan kawan-kawan baru sampai Stasiun Kota Malang jam 5.35. Wah, akhirnya selamat sampe Malang. Alhamdulillah. Jujur aku nggak tau berita kalo nggak mbak yang di sampingku ngasih tau kalo Gunung Kelud meletus Rabu malem, sebelum kereta sampe stasiun, sempet buka aplikasi berita online di hape, dan iya bener, Gunung Kelud meletus. Nggak lama sesudahnya, Shinta, temen yang nggak ikut trip to Jogja sms tanya kabar. Sungguh bersyukur, tapi juga berdoa sama daerah dan orang-orang yang kena musibah letusan Gunung Kelud.
11 Februari 2014
Sekalian mbarengi adik sekolah, mama nganter aku ke Stasiun Kota Malang, sekitar jam 7.30 pagi. Kenapa bareng? Soalnya kebetulan kelas 3 SMP lagi ada try out. Dia masuk jam 8. Sampe stasiun jam 7.48. Ketemu temen-temen. Huh, untung nggak ketinggalan kereta. Tiketnya di aku, men.
Habis naruh barang di tempat tas di atas seat (nggak tau nyebutnya apa). Kita (Farda, Zi, Yole, Mano) mulai nggruwis sesukanya. Ngobrol ngalor kidul. Nggosip. Mulai dari temennya Yole yang nggak percaya kalo dia naik kereta kelas ekonomi, katanya kalo naik yang ekonomi bareng ayam-ayam, bebek-bebek gitu, ngakak maksimal, sampe cerita mau ngapain aja pas di Jogja. Rempong pokoknya. Jadi berasa ibu-ibu pkk yang lagi ngrapatin harus bayar uang kas bulanan berapa. Lho.
Selang 2 jam, 3 jam, ternyata capek kalo ngomong terus, akhirnya ada yang tidur, ada yang dengerin musik sambil galau, mandangin pemandangan di luar kaca kereta. Melankolis.
Sekitar jam 10 an, baru bangun semua, sadar kalo nanti siang makannya gimana, kan laper. Aku inget kalo di Stasiun Madiun ada yang jualan pecel, yaa seukuran nasi kucing lah, enaknya juga biasa. Tapi temen-temen ternyata setuju mau makan itu. Hompimpa alaihom gambrenglah kita. Bagus, Mano sama aku yang nanti kebagian turun beli pecelnya. Oke.
Belum sampe Madiun, eh ternyata di Nganjuk ada ibu-ibu yang masuk ke kereta nawarin nasi pecel. Heran. Kok ada penjual masuk kereta. Padahal udah dua kali ini ke Jogja naik kereta belum pernah liat ada penjaja makanan masuk kereta. Belilah kita pecel itu, 5 ribuan. Perasaan udah ga enak sebenernya. Great, setelah dibuka isinya yaa paham lah.
Tidur lagi. Ngobrol lagi. Sampe jam 2, setengah 3 an, bangun, udah mau sampe Jogja soalnya.
Jam 15.20 sampe Stasiun Tugu. Habis duduk-duduk, ke kamar mandi, cus cari penginepan. Jujur sebenernya ga tega sama Mano yang bawa-bawa koper, sama Yole yang bawa tas jinjing kudu jalan, nyebrang gang, cari hotel kelas melati atau penginepan. Cari hotel murah itu perjuangan, bro. Banyak bapak-bapak becak yang nawarin becaknya nyari hotel. Ohmen, padahal cuman selang gang, tapi 15 ribu per becak. Akhirnya lanjut jalan daripada tekor sebelum merasakan kasur hotel. Nemu Hotel Sala 4 di Jalan Dagen. Setalah deal-deal an sama mbak resepsionisnya, kita dapet kamar family room isi 4, 335 ribu, plus 40 ribu extra bed. Hah, lumayan mahal lah. Yaudah sih daripada keringetan bolak-balik gang sama bawa tas yang lumayan berat, pilihan kita jatuh ke hotel ini. Kita sampe kamar hotel sekitaran jam 4.50. Capek bro. Ga kerasa hampir 2 jam keliling cari hotel di Jalan Sosrowijayan sama Jalan Dagen.
Bersih diri, mandi, googling kuliner Jogja. Jam 6.30 ke Bakmi Kadin. Jalan ke arah Malioboro, karena udah capek jalan, nyetop taksi, 35 ribu, langung iya. Bakminya uenak puol! Kalo kesana lagi pengen ngajak Mama sama keluarga. Recommended pokoknya!
Habis makan, kita ke Alun-Alun Kidul. Bingung mau jalan apa naik taksi kesananya. Kasian Mano, dia udah capek jalan. Ga tega. Akhirnya nemu gps ke Alkid, 20 menitan lah jalan kaki. Sampe Alkid ngabari temen SMA yang sekarang kuliah di UKDW, Wipi. Udah lama ga ketemu soalnya, kangen. Haha. Sebelum itu makan dulu di pinggir jalan Alkid, makan sate ayam sama ronde. Trap banget kalo kata Zi, sate ayamnya cuma kulit, coy, 12 ribu per 10 tusuk. Ronde 10 ribu dan rasanya biasa aja. Kampret, gini doang malem pertama di Jogja udah habis 40 ribuan lebih. Ohmen. Belum gowesnya habis 25 ribu satu puteran Alkid. Ditawar mau kayak apa ga bisa kurang dari 25 ribu. Oke, gapapalah, pengen gowes juga berlima.
Habis gowes, ketemu Wipiiii, berpelukaaan. Haha. Wipi memotivasi kita buat nyebrang 2 pohon beringin yang melegenda itu di Alkid. Mitosnya barang siapa yang bisa nyebrang 2 pohon beringin itu keinginannya tercapai. Kereeen. Aku sama Mano berhasil nyebrang. Yang kasian Zi, dia udah 3 4 kali nyoba, tapi selalu nyerong kanan, kiri, dia bete soalnya ga berhasil nyebrang, yang sabar ya Zi.
Nggak kerasa udah jam 11 an, udah pada ngantuk, mikir gimana caranya ke Malioboro naik taksi, udah berusaha telpon perusahaan taksinya tapi failed. Nggak lama setelah itu eh ternyata ada taksi melintas, peran Wipi disini sangat membantu sekali. Haha. Dia nawar ke Malioboro 25 ribu. Horeeee, kita bahagia dapet 25 ribu ke Malioboro, soalnya kata Wipi itu 35 ribu yang pas kita ke Bakmi Kadin itu kemahalan. Malem pertama ini kita dapet banyak zonk.
Sampe hotel langsung tidur. Tepar. Lebay.
12 Februari 2014
7.10 berangkat ke Gua Pindul. Sebelumnya udah nyewa mobil ke 57 Transport di Jogja, kena 400 ribu hari ini. Udah janjian juga sama Pak Santo, supir mobil yang bakal nemeni kita sepanjang perjalanan di Jogja. Pas otw ke Gua Pindul, berhenti di Sop Ayam Pak Min buat sarapan. Jam 8 lanjut perjalanan. Sampe di Gua Pindul jam 9.03. Baru bangun tidur semua. Haha.
HTM nya Gua Pindul + Rafting Sungai Oyo 80 ribu.
Di dalem gua, Pak Eko njelasin panjang lebar, mulai dari sejarah sampe mitos-mitosnya Gua Pindul. Kita yang ndengerin Pak Eko cerita berwah-wah ria, dan beroh-oh ria. Sori, karena aku punya short term memory, nggak semua ceritanya Pak Eko nyantol di otak. Forgive me.
Pas hampir sampe terakhir rute cave tubing, ada sejenis tebing batu yang biasanya dipake pengunjung lompat ke sungai, slow, bukan lompat bunuh diri kok. Disini pengunjung bisa lompat indah, lompat salto, lompat diving, soalnya termasuk zona yang kedalamannya ga dalem, sekitar 3-5 meter. Udah ada Yole sama Farda yang excited banget gara-gara nonton videonya JJM, Jebraw yang loncat salto disini. Haha. Asik sih, tapi makasih buat aku nggak bakal loncat, soalnya belum pede. Haha. Yole sama Farda keren cuy. Yole aja 2 kali loncat. Dia seneng banget, renang-renang gitu. Haha.
Terakhir rute cave tubing, nggak lupa foto bareng baru lanjut ke Sungai Oyo. Terpaksa kudu berpisah sama Pak Eko, ke Oyo dipandu Pak Ucil sekitar jam 10.39. Naik pick-up lagi. Sampe tkp, woaaa ternyata sungainya lebar. Sedikit menciutkan nyali, tapi tetep berangkaaat. Nurunin ban, terus berlima, berenam sama Pak Acil, megang pegangan tali biru yang ada di tiap-tiap ban, biar nggak lepas dan sejalan. Karena belum ada yang pernah ngrasain rafting, kita bener-bener seneng banget. Teriak-teriak ga jelas. Sama Pak Ucil dimampirkan ke Air Terjun Pengantin. Namanya serem, kayak judul film kata Farda dkk. Tapi memang iya. Haha.
Di air terjunnya kita bisa lompat-lompatan kayak tadi di Gua Pindul. Aku, Yole, Farda, Zi mau nyoba lompat. Jujur aku takut soalnya pasti lebih dalem dan agak lebih tinggi daripada yang di gua. Yole loncat pertama, sukses. Terus aku, nggak lama-lama mikir, walaupun parno duluan soalnya aku ga bisa renang dan takut mati nggak balik-balik ke permukaan, tetep terjun. Sebelumnya Pak Ucil udah mau nunggu di bawah biar ga kebawa arus sungai, agak secure jadinya. Pas terjun udah mati rasa, jatuh di sungainya sensasi banget, hidung sakit kemasukan air, kerudung udah berantakan kemana-mana. Ditolong Pak Ucil merapat ke tebing sungai. Tangan udah nggapai-nggapai, kaki mancal-mancal nggak karuan, horor kalo diliat. Sampe tepi, finally. Farda loncat, sukses. Zita yang luamaa banget di atas tebing, udah bismillah ngurungin niat terjun, akhirnya nggak sanggup. Lol.
Habis main terjun-terjunan lanjut naik ke ban, sama lanjutin rute. Naik daratan, lanjut naik pick-up ke parkiran mobil. Mandi, bersih diri, sekitaran jam 12.40 baru keluar dari kawasan wisata Gua Pindul, lanjut perjalanan ke Pantai Ngobaran, kata Pak Santo sekitar 1 jam dari Gua Pindul. Di mobil cerita-cerita lagi, ngakak pengalaman lucu di Gua Pindul sama Sungai Oyo tadi. Seru pol. Terus tidur.
Pantai Ngobaran, subhanallah, hidden paradise kalo kata Zi, buagus banget pemandangannya, walaupun jarak pantai ke lautnya cuman beberapa meter. Ohiya HTM nya kena 5 ribu per orang kalo masuk ke Pantai Ngobaran ini.
Puas foto-foto, kita lanjut perjalanan ke Gunung Api Purba Nglanggeran. Kita mau ngejar sunsetnya soalnya pas googling disananya bagus banget. Udah diniati bakalan naik ke Embungnya.
Tapi karena laper banget, dan kita ga bawa minum lebih dan makanan, terpaksa berhenti di warung makan pinggir jalan, enak nggak enak tetep dimakan. Jam 2.40 berangkat ke Gunung Api Purba, habis bayar tiket masuk 4 ribu per orang sama ke kamar mandi, kita berangkat muncak. Disini nggak tega banget sama Mano yang di Sungai tadi bete soalnya dia sempet kepleset dan kayaknya udah nggak semangat jalan kaki lagi. Habis memantapkan hati, kita semua jalan muncak berharap sampe puncak sebelum sunset.
Bagi yang pertama hiking, gunung ini ekstrim banget, masak langsung ngetrek gitu jalurnya, parah banget. Bolak-balik kudu ngatur pernapasan. Kerennya, gunungnya itu banyak batu gede-gede bekas erupsi. Sempit- sempitan di antara 2 batu gede, kayak di film 127 Hours.
Nanjak. Banget. Aku aja capek, nggak kuat, tapi tetep semangat. Zi yang di depan kayak bukan Zi, dia cepet banget jalannya. Keringetan tapi nggak sampe-sampe, cuman di php sama plang kayu petunjuk jalan ke puncak. Paling nggateli dan paling megelno pas ada persimpangan pertigaan, ada tulisan....
Nggak ada keraguan kita nuruti petunjuk jalan itu, eh kampret udah jalan sekitar 50 meter, cuman ada jalan buntu, tangga naik ke arah sumber air Comberan. Iya, BUNTU. Disinilah kesabaran kita mulai diuji, kita merasa failed banget. Ketemu orang yang kayaknya juga kecewanya sama kayak kita. Dia balik arah. Bingung harus kemana dan harus ngapain, sangking hopelessnya sampe buka Google Map, kita dimana. Selang 1-2 menit mas yang tadi ketemu, ternyata dia orang Sengkaling (oke ini nggak penting), dia ngabarin kalo di pertigaan tadi ada yang iseng mbalikin papan petunjuknya. Marah sekaligus lega, kita balik ke pertigaan tadi dan nelusuri jalan yang bener. Jalan lagi sekitaran sejam an kurang, nemu sejenis tangga yang terbuat dari kayu, bukan itu yang bikin terkejut, tapi pas kita liat ke atas, ada batu gede banget, intinya kita climbing, nemplokin batu biar sampe puncak. Agak struggling juga soalnya Yole pake sepatu sandal, dan yang lain juga ada yang pake sandal Crocs, aku pake sepatu running. Oh God. What an unexpectable trekking.
Sampe atas. Jam 5.24. Lega. Tapi juga kecewa, tapi juga banyak leganya. Oposeh.
Ternyataaa, kita salah naik. Bukan puncaknya yang pengen kita hampiri, tapi Embungnya, oh please. Embungnya itu keliatan banget dari atas puncak Gunung Api Purba Nglanggeran ini. Kampret dalam hati. Yaudahlah mau gimana lagi, ga usah kecewa, dinikmati aja. Habis foto- foto sama istirahat bentar kita udah siap-siap turun. Kalo lama-lama bakalan masuk angin soalnya dingin banget di atas, sementara kita cuma pake baju kaos biasa. Ga bondo pokoknya. Pas turun dari puncak, sebelum nuruni tangga, karena ekstrim banget, ada 2 mas-mas yang bantuin kita dari atas. Ngasih saran gimana caranya turun dari tebing puncak tadi. Berasa wall climb(ing). Makasih ya mas *kedipin mata. Eh.
Hari udah gelap banget, kita ga bawa senter, yang ada cuma flashlight dari hape. Panik. Banget. Takut ilang di gunung soalnya ga banyak petunjuk jalan. Denger adzan maghrib, tambah serem, kaki udah gemeter soalnya udah capek banget. Mano sempet kepleset, lagi. Maaf ya No, rek, merasa bersalah banget ngajak kalian ke tempat nggak terduga kayak gini.
Sampe pos berapa gitu, ngliat masih ada orang, lega dikit. Kita bener-bener hopeless disini, akhirnya manggil mas-mas yang tadi bantuin di atas, minta tolong nungguin kita turun. Masnya baik banget, ngemong kita dari atas sampe bawah, ngasih arah-arahan, bersyukur banget soalnya masnya juga bawa senter. Thank God. Ohya masnya itu kuliah di ISI, lagi ngambil S2. Logat Jakarta, tapi tinggalnya di Jogja katanya.
Hapeku tiba-tiba bunyi, ngecek hape, eh ada sms dari Pak Santo, nanyain kita kok belum sampe-sampe, maksudnya jam sewanya udah mau habis jam 7 malem, kalo lebih dari 12 jam, kena charge 15 persen dari harga sewa. Ohmen. Hampir mau sampe bawah, mulai keliatan lampu-lampu di posnya. Pertanda kita bakalan segera berpisah sama masnya. Huhu. Makasih banyak ya mas, semoga kita bisa ketemu lagi, belum sempet kenalan padahal. Sedih. Dah, mas ganteng.
Jam 6.45 kita baru naik mobil pulang ke arah hotel. Bener-bener jadi cerita banget hari ini. Nggak terkecuali cerita tentang mas ganteng tadi, jadi bahan obrolan paling panjang. Haha.
Jam 7.55 sampe hotel, bilang maaf sama terima kasih sama Pak Santo, sama ngasih uang sewa mobil plus chargenya.
Karena belum makan malem, di jalan pulang tadi udah rencana ke House of Raminten. Penasaran. Mau makan malem disitu. Habis tiduran bentar, mandi, berangkat kesana sekitaran jam 9.23. Udah malem ternyata. Kesananya jalan kaki, 10-15 menitan kalo dari hotel. Sambil pesen dan nunggu makanan dateng, kita ngitung-itung biaya pengeluaran dari kemarin sampe hari ini. Utang udah terbayar, kenyang, pulang, Naik taksi balik ke hotel. Jam 1 baru tidur. Haha. Hari yang panjang dan banyak cerita yang bakal keulang terus di memori.
13 Februari 2014
Hari terakhir di Jogja.
Walaupun udah di alarm, kita tetep bangun siang, jam 7 an baru aktivitas mandi dan packing, sekalian check out. Jam 8 masih ada aku sama Yole yang belum mandi, terpaksa Zi sama Mano cari sarapan nasi bungkusan di sekitaran hotel. Sarapan di hotel sekitaran jam 9 kurang. Nasinya enak, lauknya juga enak. Alhamdulillah dapet makan enak.
Ternyata Pak Santo udah nunggu di depan hotel, berangkat ke Imogiri jam 9.09. Sekitaran sejam udah sampe di Imogiri, tepatnya di hutan pinusnya. Wuah, bersih banget udaranya, walaupun Jogja memang agak lembab, jadi agak sumuk. Haha. Masuk hutan, udah pada sibuk sama hape dan kamera masing-masing. Busy taking selca. Hehe.
Next destination ke Tamansari. Tempat mandi istri raja-raja terdahulu. Jam 12.15 mulai keliling Tamansari sama Masjid Bawah Tanah. Wisata budaya, wisata sejarah. Jam pas panas-panasnya jadi keringetan banget, untung Farda bawa payung. Haha.
Laper, makan siang di Gudeg Yu Djum. Menunya banyak yang habis. Huhu. Seadanya akhirnya. Zita pesen 1 porsi gudeg dibungkus buat dimakan di Malang. Harga menunya lumayan, dari 9 ribu sampe 20 ribuan.
Habis makan siang, tanya-tanya ke Pak Santo kalo beli oleh-oleh batik, daster, dsb dimana, dianterlah kita ke toko (lupa namanya apa), yang ternyata agak trap dan zonk soalnya sepi. Tapi Yole dapet kain batik buat Pakleknya di Malang. Good. Karena nggak interest milih baju yang mana, cus ke pusat pembuatan Bakpia 25. Beli-beli bakpia dkk.
Penasaran sama Mirota, habis parkir di parkiran Benteng Vredeburg, akhirnya kesana jam 3 an. Sebenernya mau ke Pasar Beringharjo dulu, Yole mau cari tas. Terlena di Mirota yang ber-AC dan tinggal take away dan bayar ke kasir, makan waktu lama disitu. Jam 4.35 baru ke Beringharjo. Sedih. Toko-toko yang jual tas udah tutup. SEMUA. Yole yang antusias pengen beli tas jadi agak bete. Hemm, kayaknya tadi salah, benernya ke Beringharjo dulu, baru ke Mirota. Pasar Beringharjo tutupnya jam 4.30. Huee. Akhirnya beli baju sama tas di luarnya Pasar Beringharjo. Dapet sih, tapi agak susah nawar. Haha.
Balik ke parkiran, jam 5.05, gabut. Bingung mau ngabisin jam kemana. Akhirnya Yole nemu tempat tongkrongan asik, namanya Legend. Jam 6 an baru cus kesana. Di perempatan Malioboro sebelah utara, deket pojok Benteng Vredeburg udah rame, agak macet, soalnya ada event Tionghoa Exhibition, Jogja Dragon Festival. Merasa hina nggak bawa dslr *SIGH.
Sampe Legend jam 6.23, habis pesen-pesen makanan, sama sholat maghrib, cerita berlanjut. Haha. Pada ngelantur semua, apalagi cerita yang mas ganteng di Gunung Purba dibahas untuk sekian kalinya. Makanannya disini termasuk murah, tapi juga ada yang agak mahal, menu yang premium agak mahal kalo dibandingin sama yang reguler. Ketemu waiter, mas Wilis namanya, masnya gokil, men, lawak, pantes kalo ikutan stand up comedy. Main lawak-lawakan, gombal-gombalan sama mas Wilis. Lol.
Nggak kerasa udah jam 8.15, udah diwanti-wanti sama Pak Santo, takutnya macet soalnya ada event tadi itu, kita berangkat ke Stasiun Tugu. Ternyata nggak macet, jam 8.34 udah sampe stasiun. Yang mau mandi, termasuk aku, ya mandi, yang mau nunggu kereta ya nunggu. Bebas pokoknya. Baru naik kereta sekitaran jam 9.56. Kereta berangkat jam 10.16, bismillah semoga selamat sampe Malang. Amin. Habis berdoa, duduk di kursi masing-masing, kalo aku tidur, yang lain masih ngobrol. Hehe.
Puas banget liburan sama kalian, guys. Kita luar biasa. Waiting for next trip together along with Shinta. Cheers!
Ps, this post has been saved as a draft on Friday, 14 Feb 2014. Sorry for this very late post.
1/24/14
Clumsy
My friend who ride along with me last Wednesday got hurt too. I feel sorry toward her. Fyi, me and my friends were going to Paralayang at Pujon. But rains couldn't stop pouring that day, although the rain was not that heavy. We know that it's quite late to went there, because it's already evening. We convince ourselves, we still have to continue this trip because we've came this far. Too much exaggerating here. I feel so ashamed not knowing that road was slippery and me, with all my confidence "Hah, I can handle that, don't worry". As that think have flashes in my mind, I lost my grip and yes, we fell off from motorcycle. It was great. I don't feel anything on my legs and I tried to get up, pretending not get hurt while my friends helped us to stand up.
1/15/14
NS
Gilaaa. It's a shame, but wonderful.
Bangun tidur senyum-senyum sendiri.
Sebelum masuk ruang kelasku, sebelumnya di hari yang sama udah beberapa kali ketemu juga di kampus. Masih belum yakin itu Nicholas Saputra atau bukan. Ohmen. Udah beberapa kali papasan tapi nggak berani nyapa dan nggak nyangka dia bakalan sekelas sama aku. Haha.
Waktu perkenalan di kelas, kebetulan dosenku pas dapet dosen yang lawak. Baru tau juga dia punya bakat njodoh-njodohin anak orang.
Aku nggak paham dari mana juntrungnya kemana, intinya di kelas itu, habis Nicholas Saputra duduk di kursinya, aku disuruh kenalan sama dia. Huhu. Jahat banget emang dosen ini. First, karena waktu perkenalan ada sejenis drama singkat, nah namaku dipake disitu. Fyi, dramanya itu cuma dialog biasa antara Nicholas sama salah satu temenku. Nggak tau kenapa namaku yang dipake jadi peran ceweknya. Kaget juga nggak ketulungan. Habis dialog drama ga jelas itu, bapak dosennya nyuruh aku kenalan langsung sama Nicholas. Huhu. Tangisan seneng. Anugrah tak terhingga. Mau nggak mau berdiri deh aku dari kursiku, jalan ke arah Nicholas. Btw, Nicholas ngasih sejenis pion gitu ke aku, dan aku juga barter pionku ke dia. Tiba-tiba aja di tanganku udah ada pion, nggak tau kenapa. Kayal sekali.
12/22/13
Jangan Benci Aku, Ma
Jangan benci aku ya ma...
Aku pernah membayangkan mama udah nggak ada di sampingku lagi
Aku takut kalau-kalau sesuatu terjadi sama aku, kalau-kalau sesuatu terjadi sama mama, aku bakal nggak bisa ketemu mama lagi..
Aku takut kalau tadi nggak pamit sama mama, aku nggak bisa cium tangan pipi mama lagi..
Aku takut mama marah, terus nggak mau menatap wajahku lagi, aku takut mama pergi..
Please ma, jangan pergi kemana-mana ya ma..
Aku memang belum bisa melindungi mama. Maaf ma..
Aku sayang mama..
Aku ingin berfoto setiap hari sama mama, menjadikan tiap hari itu jadi kenangan yang indah buat mama, buat aku
Maaf
Buka pager. Nyalain mobil. Mobil berhenti di depan pintu. Papa udah nunggu di dalem. Aku disapa duluan. Ternyata bener papa lagi ada tamu. Aku salim papa. Aku disuruh salaman juga sama tamunya papa.
Selesai salaman, buka jaket.
Kembali lagi ke depan pintu. Masang selang ke kran air. Mulai nyemprotin mobil.
Selesai mandiin mobil, masukin mobil ke dalem garasi. Naik ke lantai atas. Liat banyak lampu yang masih hidup. Tapi aku belum liat mama. Mama kemana ya, pikirku.
Ke arah meja makan, ngurungin makanan-makanan. Matiin lampu. Jalan ke arah ruang setrika. Ngambil baju ganti. Matiin lampu.
Bersihin diri. Dan sekarang ini lagi nulis note. Nggak tau kenapa pengen nulis aja. Hem.
Ma, maaf ya, dari pagi aku udah mbangkong, nggak tau mama sama papa udah nggak ada di rumah. Itu jam 8 pagi. Masih belum mau tanya mama papa kemana, soalnya mbak masih tidur. Ke arah ruang setrika, liat ada cucian di mesin cuci, putih semua. Berarti ini khusus nyuci baju-baju yang warna putih. Liat ke ember tumpukan baju kotor. Milihin mana-mana aja yang putih. Terus masukin ke mesin cuci. Nunggu gilingan mesin cuci, sambil nyalain setrika.
Jalan ke arah dapur. Ambil panci. Ngisi air. Nyalain kompor, ngrebus air.
Kembali ke arah ruang setrika, nyetrika baju sama kerudung. Selesai, kembali lagi ke dapur. Nuangin air panas ke mangkok, ngaduk susu, dicampur koko crunch. Makan.
Hp an bentar. Buka-buka instagram. Mandi.
Habis mandi terus liat mesin cuci, ternyata udah selesai nggiling. Ganti baju pergi. Jilbaban. Lanjut njemur baju. Selesai jemur baju, aku ke bawah. Sebelum itu aku tanya ke mbakku, mama papa kemana, ternyata mereka berdua pergi jogging dan lanjut ke Batu sebentar. Hem. Belum bisa pamit ke mama papa.
Pergi otw ke kampus, soalnya ada rapat jam 10 tadi, sampe jam 8 malem ini tadi. Rapatnya panjang. Aku udah rencana belikan mama bunga hari ini. Sepulang rapat. Ternyata pulang tadi aku lewat Pasar Bunga, udah gelap semua. Sedih. Pulang tadi bener-bener blank.
Sampe sekarang aku belum salim sama mama. Mama kayaknya tadi tidur di kamar bawah. Maaf ya ma, seharian ini aku nggak ketemu mama, tadi nggak pamit sms mau ke kampus, terus belum ngucapin selamat Hari Ibu.
Selamat Hari Ibu, ya ma. Terima kasih selama ini mama udah menjaga, merawat, mengasihi kami, anak-anak mama. Sabar mengurusi kami dengan kasih sayang. Menasihati kami. Memarahi kami. Mendengarkan cerita-cerita kami. Aku jadi inget ketika mama cerita, aku jarang memfokuskan pikiranku ke cerita mama. Aku jadi inget waktu mana nyuruh aku, aku masih bilang 'sek', aku masih bilang sebentar. Mama memang orang paling sabar. Maafkan aku ya ma, aku belum menjadi orang yang mungkin belum bisa mama banggakan, aku belum bisa ada ketika mama butuh aku. Ketika mama capek, aku nggak ada. Ketika mama sedih, aku nggak ada di samping mama. Mendengarkan cerita mama. Aku sayang mama. Kami sayang mama. Mama yang sehat, ya ma. Jaga kesehatan. Semoga mama senantiasa diberikan perlindungan Allah. Amin amin yaa robbal alamin. Terima kasih ma. Dan maaf ma...
12/20/13
Bermimpi
Aku pernah bermimpi.
Pada suatu hari aku main ke rumah temenku yang ada di daerah kompleks rumahku yang dulu, sebut saja Kiki namanya. Kiki ini dari dulu sampai sekarang nggak pernah gendut. Kurusss terus. Sedikit iri. Haha
Ayahnya Kiki seorang sejenis kolektor (atau apa namanya ya kurang paham). Rumahnya si Kiki itu unik. Semua perabotannya sebagian besar kayu. Rumahnya besar, rapi, dan bagus. Sepertinya ayahnya ini hobi dan bakat merawat rumahnya sedemikian unik.
Jadi, waktu aku main kesana, selang beberapa jam, aku kebelet pipis. Eh, ternyata sama Kiki nggak dibolehin masuk kerumahnya :" (selama berjam-jam memang aku hanya main di depan rumahnya, nggak dipersilahkan masuk). Walaupun aku udah maksa banget, tetep nggak dibolehin masuk buat numpang pipis.
Nah, kebetulan aku punya ide, rumahnya Kiki kan kebetulan deket kampus, larilah aku ke kampus itu (nggak paham nama kampus itu apa). Nggak taunya di kampus itu ada ospek. Nggak kehabisan akal, aku cari sejenis Indomaret gitu, biasanya ada wc gratis kan ya. Eh ternyata hasilnya nihil. Alhasil aku berniat untuk pulang aja sambil menahan pipis. Hemm.
Sebelum pamitan pulang sama Kiki, sewaktu jalan kembali ke rumah Kiki habis cari wc nggak nemu-nemu, aku ketemu cewek, cowok, kayaknya pacaran gitu. Eh ternyata aku kenal sama cowok itu, namanya Fadhil, temen SMA ku, ohya fyi, Kiki itu temen SD ku. Aku santai jalan ke arah rumah Kiki. Anehnya, aku dibolehin masuk.
Sebenernya udah firasat ada yang aneh sama Fadhil. Setelah aku masuk rumah Kiki, si Fadhil memata-matai rumah Kiki. Aku nggak tau alesannya apa. Aku beritau si Kiki kalo ada spy di luar rumah yang lagi foto-foto rumah Kiki. Manjat-manjat rumah gitu. Waktu itu ayah Kiki di rumah. Kiki beritau ke ayahnya masalah itu. Ayah kiki langsung kalang kabut. Nah disini aku belum paham, kenapa kok rumah itu dimata-matai.
Nggak beberapa lama kemudian, datanglah kakeknya Kiki, naik jeep terbuka gitu, dia marah-marahin ayahnya Kiki. Sampe ayahnya Kiki mau diserempet pake jeep itu. (Bayangkan kakek Kiki itu kakek-kakek yang kuno, tradisional, berkumis tebel, disini dia pake setelan jas safari putih dan pake tongkat buat bantu jalan). Aku juga ga paham kenapa kakeknya marah-marah. Mungkin karena rumahnya terekspos mungkin ya. Tapi kakeknya Kiki tau darimana kalo ada spy di luar rumah Kiki. Nah lo? Terus tiba-tiba aku udah nggak kebelet pipis (maksudnya apa ini -_-)
Jadiii, ternyata, rumahnya Kiki itu rumah ilegal. Bukan rumahnya sih yang ilegal. Tapi perabotannya. Kayu mahoni, patung-patung kayu, ukiran kayu, dan masih banyak barang lain lagi. Kayak museum gitu rumahnya. Haha.
Terus akhirnya kakeknya berinisiatif jahat sama spy tadi. Kakek Kiki menyuruh ayah Kiki buat bunuh si Fadhil. Fyi, ayah Kiki ini pernah kerja di badan intelijen negara, jadi canggih gitu. Karena ayah Kiki itu bukan psikopat, dan dia berjiwa agak nasionalis, dia nyuruh aku bawa Fadhil ke hutan, sebelum itu dibius dulu pake obat bius (yaiyalah), gimana caranya waktu dibawa ke hutan itu dia dalam keadaan nggak sadarkan diri. Ada Kiki juga selain aku dan Fadhil yang sekarang ada di hutan. Fadhil kita baringkan di atas tanah. Kita bingung mau diapakan si Fadhil. Mau dibakar, tapi ga ada korek, gerimis pula. Mau diiket tapi tadi lupa ga bawa tali. Mau ditikam juga ga ada pisau. Kepikiran juga mau dipukulin pake batu kok kayaknya kurang etis. Kalo dia bangun sebelum dipukul gimana? Kan jadi ga tega. Kenapa tadi nggak dilindes aja ya pake mobil? Kan ga susah kayaknya.
Setelah beberapa waktu berpikir, aku punya ide, gimana kalo telpon 911 buat ngamanin si Fadhil. Bilang aja, kita nemuin Fadhil di hutan waktu hiking di hutan. Oke rencana jalan. 911 udah aman nyelametin si Fadhil. Fadhil udah on the way rumah sakit. Dan masalah clear.
Kalem, kita udah ngerencanain strategi kok biar dia hilang ingatan atau nganggep kejadian ini nggak pernah terjadi. Buahahaha. End.
Ditulis di Notebook, Dec 19, 2013 | 10.29 pm





